BAB 6 TEORI TINGKAH LAKU KONSUMEN DENGAN PENDEKATAN GUNA ORDINAL

 

TEORI TINGKAH LAKU KONSUMEN DENGAN PENDEKATAN GUNA ORDINAL

 

Pendekatan ordinal menggunakan pengukuran ordinal (bertingkat) dalam menganalisis kepuasan konsumen. Pendekatan ini menyatakan bahwa kepuasan itu tidak dapat diukur secara kuantitatif, melainkan sifatnya bertingkat/berjenjang, dan hanya bisa dibandingkan. Berikut ini adalah asumsi-asumsi dalam pendekatan ordinal :

  • Rationality. Setiap konsumen diasumsikan bertindak rasional, yaitu berusaha mengejar kepuasan maksimum meski dihadapkan dengan keterbatasan anggaran.
  • Utility is Ordinal. Berdasarkan asumsi ini, kepuasan itu tidak dapat diukur, namun hanya bisa dibandingkan (sifatnya bertingkat).
  • Transitivity and Consistency of Choice. Konsumen senantiasa konsisten dalam membuat pilihan antara berbagai kombinasi barang.
  • Non Satiation. Asumsi ini menyatakan bahwa konsumen menyukai barang yang lebih banyak daripada yang sedikit. Konsumen juga diasumsikan selalu ingin terus berkonsumsi. Inilah yang sering disebut sebagai “asumsi ketiadaan kepuasan” atau “konsumsi tanpa kejemuan” (assumption of satiation).

 

Pendekatan ordinal dapat dianalisis dengan menggunakan kurva indiferen (indifference curve) dan garis anggaran (budget line).

 

·         Kurva Indiferen

Kurva indifieren adalah kurva yang menunjukkan kombinasi dua macam barang konsumsi yang memberikan tingkat utilitas yang sama. Setiap titik dalam kurva ini melambangkan tingkat kepuasan yang tidak berbeda (indifference), meski kombinasi konsumsi barang/jasanya berbeda-beda.

Kurva indiferen memiliki beberapa sifat, antara lain:

ü  Kurva indiferen memiliki kemiringan negatif, artinya jika jumlah salah satu barang atau jasa meningkat, maka jumlah barang atau jasa lainnya harus berkurang agar tingkat kepuasan tetap sama.

ü  Kurva indiferen tidak dapat berpotongan satu sama lain, karena hal ini akan melanggar asumsi konsistensi dan transitivitas pilihan konsumen.

ü  Kurva indiferen bersifat cembung terhadap titik asal, artinya semakin jauh dari titik asal, semakin besar penurunan jumlah salah satu barang atau jasa yang harus dikompensasi dengan kenaikan jumlah barang atau jasa lainnya agar tingkat kepuasan tetap sama. Hal ini mencerminkan hukum utilitas marjinal yang semakin berkurang (law of diminishing marginal utility).

 

·         Garis Anggaran

Garis anggaran adalah garis yang menunjukkan berbagai kombinasi dari dua macam barang yang berbeda oleh konsumen dengan pendapatan yang sama. Garis anggaran menunjukkan kendala atau batasan anggaran yang dihadapi oleh konsumen dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya.

Persamaannya dapat dituliskan dalam bentuk: I = Px . X + Py . Y. Misalnya seorang konsumen mengonsumsi barang X dan Y, harga barang X (Px) dan harga barang Y (Py) adalah Rp 1.000 dan pendapatan konsumen (I) pada saat itu adalah Rp 10.000 dan semuanya dibelanjakan untuk barang X dan Y.

Garis anggaran memiliki beberapa sifat, antara lain:

ü  Garis anggaran memiliki kemiringan negatif, artinya jika jumlah salah satu barang atau jasa meningkat, maka jumlah barang atau jasa lainnya harus berkurang agar total pengeluaran tidak melebihi pendapatan.

ü  Garis anggaran dapat bergeser ke atas atau ke bawah akibat perubahan pendapatan atau harga barang atau jasa. Jika pendapatan meningkat atau harga menurun, maka garis anggaran akan bergeser ke atas, artinya konsumen dapat membeli lebih banyak barang atau jasa. Sebaliknya, jika pendapatan menurun atau harga meningkat, maka garis anggaran akan bergeser ke bawah, artinya konsumen harus membeli lebih sedikit barang atau jasa.

ü  Garis anggaran bersifat lurus jika harga barang atau jasa tetap konstan. Jika harga barang atau jasa berubah seiring dengan jumlah yang dibeli, maka garis anggaran akan bersifat melengkung.

ü   

·         Keseimbangan Konsumen

Keseimbangan konsumen adalah kondisi di mana konsumen telah memilih kombinasi barang atau jasa yang memberikan tingkat kepuasan maksimum dengan mempertimbangkan kendala anggarannya. Keseimbangan konsumen dapat dicapai dengan menggunakan prinsip kondisi optimal, yaitu:

ü  Konsumen akan memilih kombinasi barang atau jasa yang berada pada titik sentuh antara kurva indiferen dan garis anggaran.

ü  Pada titik sentuh tersebut, kemiringan kurva indiferen harus sama dengan kemiringan garis anggaran.

 

https://www.untag-sby.ac.id/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 4 Elastisitas Pendapatan dan Silang